Dalam
forum pengajian yang diadakan untuk para ketua kelompok muncul
pertanyaan perihal SA78, yang sempat terlontar di forum maupun secara
informal, "Apa sich SA 78 itu?", "Kenapa harus ada SA78?", "Kenapa harus
ada iuran segala, sih? Kalau ada pengajian tassawuf ya, semestinya
murni-murni saja, kenapa harus dibisniskan?" Nanti sama dong dengan
yayasan atau organisasi yang mengakumulasi finansial jamaah yang
akhirnya bisa ditebak ujung-ujungnya duit, kan? Siapakah yang punya
'Hidden Agenda', yaa?"
Bahkan ada pertanyaan dan pernyataan
yang muncul dari jamaah yang cukup menggelitik, yakni, "Saya sudah 2
tahun lebih ikut thoriqoh, tetapi bukannya tambah kaya malah dengan
adanya iuran ini tambah miskin, gimana dong? Terus apa dong kegiatan
SA78 agar kita bisa mentas dari kemiskinan? Kapan dana itu diturunkan
agar segera jamaah merasakan manfaatnya!!" Pertanyaan berbau politik pun
sempat menguak, "Kenapa pengajian thoriqoh kok diorganisasi, sih?
Kenapa harus ikut-ikutan dipolitisasi? Apa agenda politiknya bisa tambah
bubrah (?), deh?"
Begitulah yang terjadi pada jamaah pengajian
kita ini, yang mana sebagian pertanyaan tersebut menggayuti benak kita
semua yang mana menggambarkan suasana kondisi kejamaahan thoriqoh di
lingkungan jabodetabek ini, tentunya berbagai pertanyaan tersebut muncul
untuk dicarikan solusi jawabannya, bukan? Tulisan ini dibuat sekedar
upaya untuk meluruskan jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas..
Untuk mengawali jawaban di atas tentunya kita perlu instropeksi diri
akan kiprah kita di pengajian thoriqoh ini yakni pertama senantiasa
menumbuhkan sikap "Mukhassabah"--artinya kemampuan untuk senantiasa
menghisab diri sendiri, ada keberanian yang timbul pada diri untuk
otokritik terhadap diri sendiri, seperti "Apa sih yang mendasari niat
kita dari awal untuk ikut berthoriqoh? Apakah hanya sekedar ikut-ikutan
karena diajak teman? Apakah karena berthoriqoh manakala ada problem
rumah tangga? Apakah karena proyek tidak jalan-jalan ketika pas sepi
proyek? Apakah karena stress yang berkepanjangan karena berbagai faktor
yang menindih tak kunjung selesai malah makin ruwet sepertinya kemudian
kita mengkompensasi dalam 'Eskapisme sufistik'?
Ini semua real
di kehidupan kita khususnya di Jakarta ini, ya baiklah mari kita telaah
dengan seksama. Swargi Romo Mursyid Kyai Abdul Djalil Mustaqiim (Swargi
adalah sebutan pernghormatan dalam Bahasa Jawa untuk mereka yang sudah
meninggal) pernah ngendikan,
"Bejo bejo ning wong kuwi, wong
sing teguh mawengkuni thoriqoh, sebab wong kuwi kataqdir kapilih dening
Allah, wong kok gelem mawengkuni thoriqoh iku bejo kemayangan amargo
kapilih."
Ini jelas bahwa orang yang berthoriqoh itu atas
takdir Allah, orang yang paling beruntung karena dia masuk orang pilihan
Allah, makna yang lain jamaah thoriqoh itu spesifik, khas, khusus,
sehingga mempunyai karakter yang sangat unik makanya dia bisa menjadi
pembeda atas komuniitas yang lain, sekaligus menjadi teladan--untuk
itulah dia terpilih. Swargi Mbah Mat Abdul Haq Watungcongol,Muntilan
Magelang ngendikan :
"Wong thoriqoh kuwi wong sing ugemi dalane
para leluhur poro ulomo kuno kuno, tegese: 'Ihhdinassyiroothol
Mustaqiim' kuwi yo dalane wong thoriqoh sing diugemi poro ulomo sing
tansah kanugerahan ni'mat sing edhi - edhi amargo teguh nyepengi amalani
thoriqoh."
Jadi jelas sudah sebagaimana keistimewaan orang
yang berthoriqoh, andaikata kita berthoriqoh karena problem suami atau
istri atau anak yang bermasalah sehingga kita terus menerus berdoa maka
mungkin itulah yang menghantarkan kita ke gerbang pintu thoriqoh,
andaikata kita kemarin stress ruwet, proyek kok tidak ada yang pernah
berhasil, usaha tak pernah tidak gagal hingga kita 'loosing' akhirnya
pasrah sama Allah itulah yang menghantarkan kita ke pintu gerbang
thoriqoh, jadi sudah saatnya mulai kita luruskan niat kita sehingga kita
membuka pintu gerbang Thoriqoh dengan Bissmillah yang lebih baik, lebih
bernas, lebih dalam dan lebih bersih dan apik.
Sikap kedua
adalah Taslim, sikap patuh, kepatuhan kepada Mursyid harus senantiasa
kita tumbuhkan dengan rasa 'Khusnudzon'. Ini mutlak apabila kita mengaku
sebagai jamaah thoriqoh. Prasangka dan sak wasangka, perlu kita jauhkan
karena ini akan berakibat fatal bagi si murid karena dia akan
senantiasa terkunci dalam lingkar luar pintu gerbang thoriqoh yang penuh
kerahasiaan dan keistimewaan karena memang sudah lazimnya demikian, si
murid tak akan pernah melihat cahaya apabila dalam dirinya terhalangi
oleh gelap gelamnya nafsunya sendiri jadi tanpa ahlak ketasliman “ non
sense” si murid mampu membuka pintu gerbang.
Bahkan
kemungkinan dia akan makin tersesat di jalan (yang dianggapknya benar)
ketasliman kepada guru atas mursyid itu semestinya tanpa reserve karena
itulah adab dan akhlaq kita pada mursyid, dalam sebuah jagongan di sore
hari di bangku halaman samping griyo Swargi Mbah puteri Nyai Gus Jogo
Reso( Gunung pring muntilan) pernah dewuh,
"Le! Wong thoriqoh
mono koyo dene mayit, kang dikafani telung lapis, tho? Kafan lapis awal
kuwi yo teguh teteg nyekeli Iman, kafan lapis kepindo kuwi sethiti
anggonmu amal minongko Islam Ian lapis kafan ketelu kuwi yang nasthithi
angganmu laku lampah adab akhlaq minongko Ihsan !
(terjemahan )
“ nak, orang berthoriqoh itu laksana mayit, yang dibungkus oleh 3 lapis
kain kafan; lapis kafan pertama itu keteguhan yang memegang erat,
prinsip prinsip Iman, lapis kafan kedua itu teliti dengan sekskama akan
amal yang ikhlas sebagai perwujudan Islam dan lapis kafan ketiga itu
berhati-hati dalam segala tindak tandukmu sebagai perwujudan adab dan
akhlak yakni 'Ihsan'.
Demikianlah ketasliman yang semestinya
senantiasa kita tumbuh kembangkan pada diri orang yang berthoriqoh.
Sikap ketiga adalah Tafahhum, yakni sikap memahami dengan keyakinan yang
benar bahwa setiap dawuh dari mursyid itu haq dan wajib diupayakan
utnuk dilaksankan karena Sang Mursyid pada gholibnya adalah wakil dari
Rasullullah. Beliau adalah bapak spriritual yang mampu menghantarkan si
murid untuk membukakan pintu-pintu gerbang thoriqoh sesuai dengan
momentum dan kapasitas diri masing-masing murid, sesuai dengan karakter
kita yang berbeda-beda. Sungguh ulama sekaliber Imam Ghozali pun
akhirnya harus menempuh Berthoriqoh karena hampir mustahil bagi manusia
untuk mengenal dirinya sendiri apalagi mengenal Allah tanpa dibimbing
oleh sang Mursyid.Jelas sudah dengan sikap Mukhassabah, Ketalisman dan
Tafahum inilah kita akan mencoba mengurai perihal Sultan Agung 78.
Sudah waktunya untuk memncoba menjawab pertanyaan pertanyaan yang
kadang mengundang kegundahan para pengikut thoriqoh dan jamaah umumnya
perihal pergerakan Sultan Agung 78 ini. Sebaiknya kita mulai merunut
dari awal, yakni apa yang melatarbelakangi sebelum pergerakan SA78 ini
di 'launching' pada khoul PETA tahun 2011 yang lalu, sebenarnya diawali
dari do'a dan tafakur dari Kyai Mursyid Sholahuddin perihal kejamaahan
pada khususnya dan kondisi ummat pada umumnya seperti beliau ungkapkan
dalam salah satu wejangananya,
"Sak temenne aku wis ngadu
marang Gusti Allah, iki kahanane jamaah sing akeh iki arep diapake,
malah jamaah wis sumebar sak paran paran kuwi kudu diapakke, sak temenne
jamane Romo mbah Mustaqim iku Zaman penyemaian, pembibitan terus zaman
Abahe (Romo Kyai Abdul Jalil) iku zaman konsolidasi, akumulasi nah saiki
zamanku iki ya penataan. Tegese jamaah iki ditata pontensine,"
Jadi jelaslah bahwa pergerakan SA78 ini dilatarbelakangi karena
pemahaman terhadap kondisi bangsa dan kejamaahan pada kurun zaman yang
berbeda membutuhkan jawaban yang berbeda pula, agar kaum thoriqoh itu
tidak tercerai berai potensi yang dapat didayakan guna kemaslahatan
ummat serta terlampau jauh ketinggalan dalam kancah zaman yang terus
makin berubah, tentunya pilihan terhadap tantangan perubahan tidaklah
“waton” (asal-asalan) berubah, memerlukan perenungan pemikiran dan kiat
strategi yang baik agar membawa kemaslahatan yang optimal untuk para
jamaah, tidaklah mudah dalam kondisi masyarakat yang materialistik,
oportunistik yang menggejala dalam fenomena yang ada sekarang ini
sungguh tidaklah mudah, apalagi setiap organisasi politik sekarang ini
telah menjelma menjadi monster-monster serigala yang kelaparan persis
seperti gambaran yang terlukis di dinding "Griya Peta" Pondok pesantren
Tulung Agung tahun 2004, sungguh amat ironis apa yang terjadi pada
bangsa ini... Untuk itulah sebagai kesatuan Jamaah Thoirqoh harus mampu
menjawab krisis yang terjadi pada bangsa ini, dengan contoh yang baik
untuk menjadi "Uswatun Khasanah" bagi bangsa ini diawali dari menata
diri sendiri, "Ibdak bi nafsik", mulailah dari dirimu sendiri...
Memaknai Simbol Simbol Pergerakan Sultan Agung 78
Diawali dari Munajat dan Do'a Syekh Mursyid Sholahuddin akan kondisi
kebangsaan pada umumnya yang amat sangat memprihatinkan dimana hampir
luluh lantak, lumpuh dalam hal etika dan moral, budaya dan kultural,
hampir pada semua aspek lapisan masyarakat dari yang metropolis di
perkotaan maupun populis di desa-desa, apalagi ditataran birokrasi dari
yang paling rendah hingga puncuk pimpinana tak lepas dari penyakit
"Kleptomania".
Maka sudah saatnya jamaah thoriqoh ini harus
"Nakhdloh"--bangkit kembali, mengisi ruang-ruang rohani bangsa yang
kosong ditinggal pergi, mengaliri sawah-sawah hati yang tandus kering
kerontang, mendangiri dan membajak kembali sawah dan kebun jiwa yang
lama "bero" tidak terolah dan zero produksi.
--Gerak dan Pergerakan--
Jika kita memahami akan gerak tentunya ada nuansa hidup, aktif dan
dinamis tidak diam dan pasif sebagaimana jika kita melihat dengan
mikroskop binatang kecil yang namanya Amoeba (makhluk bersel tunggal)
yang sedang bergerak-gerak tentunya menandakan bahwa organ tersebut
hidup, jika amoeba bergerak berulang-ulang kesana-kemari bisa jadi
amoeba tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
Jika
kita mengamati terus menerus dengan mikroskop organ tersebut dengan
sabar maka kita akan dapat menyimpulkan bahwa pergerakan amoeba tersebut
dalam rangka mencari makan agar tetap bertahan hidup dan berkembang
biak dalam habitatnya, demikian pula apabila Amoeba tersebut diam agak
lama kemudian dia bergerak kembali, yang terjadi adalah organ tersebut
mengadakan gerak 'inkubasi' dalam rangka pertahanan diri dan adaptasi
diri atau aklitimasi terhadap lingkungannya yang berubah . Demikianlah
pemahaman terhadap gerak dan pergerakan dari makhluk bersel tunggal
Amoeba tersebut, tentunya kita semestinya lebih dari sekedar itu karena
kita adalah makhluk yang lebih sempurna dari Amoeba bukan??
--Pergerakan yang ideal--
Model-model pergerakan yang paling sederhana pasti ada 'sistem' yang
meliputinya yakni adanya aturan dan keteraturan dalam melangkah dan
motif serta misi untuk mencapai tujuang yang baik tersebut. Model
organisasi yang paling baik adalah model yang ada dalam tubuh kita
sendiri, seperti sabda Kanjeng Nabi Muhamaad SAW,
"Man arofa nafsuhu faqod arofo Robbuhu,"
Kenalilah dirimu dengan seksama, maka engkau akan mengenal Tuhanmu
(Al-hadist). Ini sebuah anjuran agar kita mampu Mukahssabah untuk
"Looking inside", melihat kedalam, instropeksi ke dalam diri sendiri
agar mendapatkan makna hikmah yang lebih berguna.. Sebuah sikap kearifan
yang sungguh mulya.Gerak dan pergerakan yang terjadi dalam tubuh kita
amatlah mengagumkan, setiap sel dari tubuh manusia saling terjalin dan
saling mengisi satu dengan yang lainnya, apabila satu sel saja mengalami
kekurangan makanan, oksigen, atau kekurangan air bahkan terinspeksi
oleh Bakteri atau virus hingga sakit maka sel-sel tetangganya yang akan
memberikan tanda-tanda secara automaticly kepada sel yang lain agar
segera disuplai makanan, air atau oksigen, dan zat anti body serta serum
agar kebal dari penyakit atau immunt sehingga sel tadi menjadi segar
kembali, jika satu sel sudah rusak karena usia dan faktor yang lain maka
secara automaticly sel tersebut diganti dengan sel yang baru dan lebih
segar. Demikian tiap tiap sel terhubung dengan koordinasi yang rapi,
menjadi jaringan, dan tiap jaringan terkoordinasi menjadi otot dan
setiap otot mengalami pertumbuhan dan perkembangan serta diversifikasi
ada yang menjadi daging, paru, hati, jantung, lever, alat pencegahan
internal lainnya, tangan kanan dan tangan kiri, kaki kiri dan kanan,
mata kanan dan mata kiri sedemikian rupa apiknya, tiap bagian sel yang
halus terkoordinasi dalam syaraf syaraf yang membentuk jaringan syaraf
otak di kepala dan syaraf sumsum tulang belakang yang sangat kompleks
dan super canggih tersusun harmonis dan "well organize".
yakni
menjadi sebuah organisasi yang berjalan dengan hollistik, sempurna lahir
dan batin maka dituntut setiap individu jamaah aktif, partisipasi penuh
pada misi "Maju Bersama Untuk Sejahtera Bersama."
Sultan Agung 78
Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Ghozali menerangkan
bahwa tubuh, kaki, tangan dan anggota tubuh yang lain serta panca indera
manusia itu terkoordinasi dalam sebuah komando yang dipimpin oleh "Al
Qolb", sang Qolbu. Inilah yang merupakan "Mulk" atau Sulthon" (Raja)
bagi tubuh dan panca indera kita. Jelaslah bahwa tubuh kita dipimpin
oleh Qolbunya.
Adalah sebuah do'a yang disebutkan dalam
Al-Qur'an yang senantiasa dimunajatkan oleh Ahlul laiil, dan dibaca kala
jamaah haji lagi thowaf ketika sampai di makam nabiyullah Ibrohim,
yaitu..
'Robbi adkhilnii mudkhola sidqii wa akhrijniii mukroja sidqii waj'alnii milladunka Sulthoonannasiroo,'
Ya, robbi, masukkanlah saya dalam sebuah perkara dengan pintu masuk
yang benar dan keluarkanlah saya dalam sebuah perkara dengan pintu
keluar (solusi) yang benar dan jadikanlah (berikanlah) kami dalam
sisiMu. "Sulthoonnan Nasiiroo" yakni Pitulung Agung yang memberi
pertolongan (yang mengentaskan) dari perkara-perkara yang memberatkan
ummat (Apakah para sesepuh orang orang dahulu menamakan kota Tulung
Agung dari do'a ini? Wallahu'alam). Kemudian dilanjutkan dengan,
'Waqull Jaa-all Haq Wazahaqoll baathil Innall baathiila kaana Zahuuqoo,'
Katakanlah telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan, sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap'
--Memaknai simbol 78--
Memaknai simbol angka 7 dan 8 penuh tafsir dan nilai yang terkandung
dalam angka tersebut, tentunya kita mencari makna agar didapatkan hikmah
yang paling baik yang kita harapkan. Angka 7 dan 8 bila kita tulis
dalam bahasa Arab yakni 7 sama dengan 'V' dan angka 8 ditulis dengan
angka 'V' terbalik.Jika keduanya kita gandeng dalam angka Arab kita
balik maka jadilah simbol "VV" melambangkan 'Asma Allah", sepertinya
angka 7 dan 8 sama saja, jika angka tersebut dalam bilangan Arab kita
coba susun secara vertikal dimana angka 7 diatas dan angka delapan di
bawah maka jadilah simbol dari mesin waktu, menurut petunjuk Mursyid
Sholahuddin bahwa angka tujuh itu dilambangkan sebagai 'senjata' dan
angka delapan menunjukkan hal 'keduniaan' maka persis seperti yang
disebutkan pada syair dari Sayyidinna Ali karamallahu Wajhah bahwa,
'Al Waqtu kass Syaiff'
Yakni waktu itu bagaikan senjata. Bukankah dunia ini terikat dalam
dimensi ruang dan waktu ??? hal demikian seorang pujangga Pakistan
Muhammad Iqbal menyairkan,
Disini... tiada tempat untuk diam dan berhenti,... Diam adalah kematian... Kematian di ujung senjata sang waktu.
Penulis,
Aswil II, Jabodetabek.
Al-Faqiir
Muhammah Zuhri Prayitno
Jakarta, 01 Oktober 2012.
0 komentar:
Posting Komentar